antara waktu, kehidupan dan kebahagiaan

 

Beberapa waktu terakhir ini, ihwal waktu jadi salah satu bahan pemikiran / perenungan saya. Berangkat dari obrolan tentang kesadaran – yang sempat kami angkat jadi bahan obrolan di pembekalan kakak Smipa. Kemudian juga tergelitik posting rekan Jo tentang waktu, yang disharingkan di Lingkar Blogger Smipa; tulisan yang berjudul Halting Time.

Memang waktu seakan semakin cepat berlalu. Padahal kalau kita amati ritme alam berjalan seperti biasa… Salah satu pemikiran saya tentang ini sempat saya tuangkan di posting yang berjudul semakin gaduh kehidupan, semakin kita butuh keheningan.

Waktu memang punya misteri tersendiri – setidaknya hal ini menimbulkan tanda tanya buat sebagian dari kita. Banyak dari kita yang berpikir tentang ini, waktu seakan secara harfiah berjalan semakin cepat. Hal ini semakin jadi pertanyaan saat kita punya pengalaman di mana waktu terasa melambat – berjalan dalam ritme yang berbeda dari apa yang biasa kita rasakan.

Bagi saya pengalaman pertama saya menyadari tentang ini adalah saat menginap di Bumi Langit, Imogiri pada tahun 2014. Kemudian di bulan Maret 2017 – saat saya berkesempatan mampir sebentar ke Desa Kandangan di Temanggung. Di perjalanan pulang dari Kandangan ke Temanggung, di angkot yang kami tumpangi, Rico mengungkapkan hal yang sama: “Wah di sini, waktu rasanya lambat ya?”. Di malam sebelumnya dia sempat bilang, “Wah ajaib, pengalaman sehari ini seperti pengalaman 3 hari!”. Kalau dihitung matematis, seakan-akan waktu berjalan 3 kali lebih lambat – membuat kita bisa mengalami pengalaman-pengalaman yang tiga kali lebih banyak dari biasanya. Apakah itu karena kita berada di tempat baru, mungkin saja, tapi saya berpikir ada banyak hal yang berperan dan mempengaruhi bagaimana kita mengalami dan menjalani waktu.

Berusaha mengurangi tumpukan draft blogpost saya, saya membuka kembali draft tulisan ini. Saya juga menyempatkan diri mencari tahu lebih jauh tentang waktu. Inilah kerennya dunia internet, ruang belajar tanpa batas. Setelah mencari-cari. saya seakan menemukan jawabannya di tayangan di bawah ini : The Secret Powers of Time.

Memang pada intinya, persepsi / mindset dan pengalaman akan kehidupan manusia-lah yang menentukan bagaimana Pace of Life (Ritme Kehidupan) berjalan bagi masing-masing manusia. Penelitian Philip Zimbardo menyimpulkan hal ini.

Di sisi lain, di Kelas Semesta KPB  yang dibawakan Bpk. Tyo Januar beberapa waktu lalu menjelaskan sesuatu yang menurut saya sangat fundamental. Waktu itu pak Tyo menjelaskan tentang 12 Universal Principles – atau hukum2 semesta; mengenai bagaimana alam semesta bekerja.

Ada satu hal yang saya tangkap dari pak Tyo terkait prinsip-prinsip kerja Semesta – yang saya kira sangat berhubungan dengan waktu. Intinya secara sederhana begini :

Apabila manusia hidup selaras dengan bagaimana alam semesta bekerja, manusia akan merasa nyaman.

Sangat masuk akal ya? Logika yang sangat sederhana – karena manusia itu bagian dari alam semesta. Kehidupan manusia tidak bisa lepas dari hukum-hukum dasar yang mengatur dinamika alam semesta.

Lebih lanjut ini jangan-jangan menjelaskan kenapa kehidupan di desa membuat waktu bisa terasa lebih lamban dibandingkan dengan kehidupan kita di kota besar. Orang-orang yang hidup di desa – yang kehidupannya bercocok tanam menggantungkan ritme kehidupannya dengan bagaimana tanaman tumbuh secara alamiah. Hal-hal yang sifatnya alamiah tidak bisa diburu-buru. Jagung perlu waktu tiga bulan dari saat ditanam hingga ia panen. Padi punya waktu tumbuhnya sendiri. Semua jenis mahluk hidup punya ritme kehidupannya sendiri. Sebetulnya begitu juga dengan manusia.

Masalah mulai timbul saat manusia melepaskan diri dari fitrahnya. Alih-alih menyadari bahwa manusia adalah bagian dari alam lingkungannya, manusia merasa dirinya lebih tinggi dari alam. Alam adalah sumber daya untuk dieksploitasi, direkayasa untuk kepentingan dirinya. Disadari atau tidak manusia juga yang akhirnya merasakan kembali dampaknya. Planet bumi rusak karena dieksploitasi habis-habisan. Saat ini manusia tengah menghancurkan bumi tempat hidupnya sendiri – konon dalam rangka ‘menemukan kebahagiaannya’.

gregbateson.jpg

Contoh sederhana adalah saat manusia berusaha mengubah / merekayasa pertanian melalui apa yang disebut dengan Intensifikasi Pertanian – ini saya ingat di jaman kepemimpinan pak Harto. Petani hampir di seluruh Indonesia diberi tahu bakal bisa meningkatkan penghasilannya dengan meningkatkan produktifitasnya dari 2 kali masa tanam dalam satu tahun menjadi 3 kali masa tanam. Caranya? Dengan bibit unggul, pupuk (kimia) dan berbagai jenis pestisida maupun insektisida. Belakangan saya tahu bahwa pupuk kimia yang digunakan itu fungsinya membantu agar padi lebih cepat menyedot unsur hara dari tanah. Ya betul. Dalam 2 tahun, produktifitas meningkat pesat dan setelahnya, produktifitas perlahan-lahan menurun bahkan lebih buruk sebelum petani masuk dalam program intensifikasi tersebut. Ujung-ujungnya petani jadi semakin tergantung pada pupuk kimia. Pupuk dan obat-obatan kimia kita ketahui meracuni tubuh manusia. Tanaman padi kehilangan daya tahan alamiahnya terhadap hama; tanah keburu menjadi kurus, kehilangan daya hidup untuk menumbuhkan apapun di atasnya… Alam yang punya kebijakannya sendiri dirusak oleh manusia.

Begitu kira-kira. Koneksi manusia dengan alam terputus, terdiskoneksi. Gegara manusia yang merasa bisa mengatasi kebijakan alam. Petani akhirnya tidak jadi beranjak dari kemiskinan karena harga pupuk dan obat-obatan yang terus semakin mahal.

Jadi tepatlah apa yang dikatakan Gregory Bateson di atas ini :

The major problems in the world are the results of the difference between how nature works and the way people think.

Dulu saat manusia menanam pangannya sendiri – ritme kehidupannya lebih lambat – selaras dengan irama alam. Saat panen, dia bisa menghidupi diri dan keluarganya sendiri. Lalu diapun kembali menanam dan begitu seterusnya. Ritme kehidupannya selaras dengan ritme alam.

Saat ini manusia modern tidak lagi menumbuhkan pangan sendiri. Hidupnya untuk mencari uang, karena makanan harus dibeli. Uang harus diperoleh dari bekerja, sehingga ritme kehidupan ditentukan oleh sang pemberi kerja atau bagaimana pekerjaan menggariskannya. Ia kerja rutin dari jam 8 sampai 5, hari libur ditentukan, ditambah waktu-waktu tertentu dia harus lembur. Ritme kehidupan akhirnya ditentukan orang lain. Dan lebih penting lagi, ritme kehidupan manusia modern terlepas dari ritme dan dinamika semesta.

Belum lagi paradigma kehidupan orang-orang modern berpijak pada jargon-jargon seperti Time is Money dan lain sebagainya. Dalam terminologi manajemen modern, Efektifitas dan Efisiensi jadi kata kunci. Produktifitas tinggi adalah tuhan dari sistem ekonomi modern. Dan manusia modern akhirnya terjebak – terbelenggu di dalamnya. Selalu ada yang memburu2 dirinya, segala membuat dirinya terus berkejaran dengan waktu. Di ujung spektrum yang lain, manusia terus diiming-imingi segala sesuatu yang materialistis. Uang adalah jalan untuk mencapai kebahagiaan. Karena dengan uang manusia berharap ‘bisa memiliki dan mengalami segalanya” dan akhirnya memperoleh kebahagiaan.

Semua ini mengubah mindset manusia secara fundamental – dan seperti dijelaskan video di atas, hal ini ternyata sangat menentukan pengalaman manusia atas waktu. Apakah kemudian manusia jadi bahagia? Sepertinya tidak.

Saya membayangkan saat manusia mengalami kebahagiaan sejati, waktu seakan berhenti berjalan. Itulah waktu-waktu di mana manusia bisa merasa damai, tenteram –  content, blissful. Bukan hanya bahagia atau merasa senang atau happy di tataran emosional, tapi kebahagiaan yang mendalam yang bisa menyentuh tataran spiritual. Situasi di mana sisi spiritual manusia tersinkronisasi (in-sync) dengan spirit alam semesta.

Intinya – sejauh pemahaman saya di titik ini, pengalaman manusia atas waktu lagi-lagi kembali ke psikologi manusia, ke pola pikir. Semakin banyak yang dikejar, semakin banyak keinginan, waktu jadi semakin menghimpit dan manusia semakin kehilangan peluang untuk merasa bahagia. Nyambung ke tulisan saya sebelumnya, semakin gaduh kehidupan, semakin banyak distraksi dan intervensi yang terus mengalihkan batin manusia dari pengalaman kebahagiaan yang hakiki.

Saat manusia bisa mengatasinya, menempatkan hening di atas kegaduhan, menempatkan yang spiritual di atas yang material, sepertinya di situlah tagar #bahagiaitusederhana bisa memperoleh pemaknaannya yang sejati, yang nyata.

_/\_ Namaste.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s