catatan Paskah 2017: antara keagamaan dan keIndonesiaan

Hari ini minggu Paskah, penutup rangkaian Tri Hari Suci sejak hari Jum’at Agung. Hari kemenangan bagi kami umat Katolik – merayakan Yesus yang mengatasi maut melalui kebangkitanNya di hari ke tiga setelah disalibkan.

Pagi-pagi di salah satu grup WhatsApp, saya menerima gambar di atas ini. Menarik buat saya karena tampilannya sangat lokal, divisualisasikan melalui wayang kulit dengan tulisan bahasa Jawa di atasnya. Bukan gambar kelinci paskah atau ikon-ikon yang lain yang import :). Di grup lain saya kemudian menemukan ucapan Selamat Paskah dalam bahasa Jawa. Bunyinya begini :

Senthir lengo potro
Mangan tahu tanpo sego
Ampun kuatir Gusti sedho
Dinten Minggu wungu mulyo.

Numpak sepur sangu jadhah
Ngaturaken sugeng riyadi Paskah

Berkah Dalem Gusti

Dari obrolan di grup WA, makna garis besarnya kurang lebih begini :

Lampu tempel berisi minyak tanah..
Makan tahu tanpa nasi..
Menunjukkan hidup dalam kesederhanaan/ keprihatinan… krn makan nasi adalah kebutuhan pokok. Dalam kaitan wafatnya Yesus.

Setelah Yesus bangkit, adalah perayaan (naik kereta) dan makan ketan, yg pd upacara2 adat Jawa selalu dipakai utk melambangkan kebersatuan/persaudaraan yg lengket/menyatu.

#terimakasihNanan 🙂

gereja ayam ambarawaObrolan di grup membawa pemikiran saya ke pengalaman beberapa tahun lalu ikut misa Natal di sebuah gereja di Ambarawa, Jawa Tengah. Gereja ayam namanya. Bagi saya menarik bahwa misa dibawakan dalam bahasa Jawa. Banyak umat juga yang hadir mengenakan kain dan kebaya. Bapak2nya ada yang mengenakan beskap. Sangat tradisional suasananya. Ngendonesia sekali, dan bagi saya itu sesuatu yang sangat spesial. Walaupun bahasanya banyak yang tidak saya pahami – saya sangat suka suasananya. Saya melihatnya sebagai akulturasi agama Katolik ke dalam budaya Jawa yang sangat berhasil. Agama dan budaya yang melebur jadi satu dan membuat umat jauh lebih menghayati pesan pesan dan ajaran agama yang sudah menjadi pilihan mereka.

Di Bandung, suasana seperti ini hampir tidak pernah saya alami. Seringkali juga misa di gereja membawakan lagu2 yang berbahasa latin… yang tidak saya pahami maknanya. Otomatis penghayatan saya – setidaknya juga jadi berkurang. Seakan ritual upacara sekedar dipindahkan ke Indonesia dan diterjemahkan sekedarnya ke dalam Bahasa Indonesia. Saya menduga ini karena Bandung termasuk kota besar. Memang perlu upaya tersendiri untuk meleburkan ajaran agama ke dalam pola kehidupan masyarakat tertentu – di manapun itu.

Di sisi lain, saya jadi teringat Bung Karno pernah berujar sesuatu tentang agama yang dikaitkan dengan kebudayaan masyarakatnya.

images

Agama, di satu sisi adalah sesuatu yang sangat pribadi – media interaksi manusia dengan Tuhannya. Di sisi lain, agama adalah semacam panduan moral (moral guidance) untuk hidup baik manusia dengan sesamanya.  Ada dua dimensi yang tidak di bisa dipisahkan.

Di agama Katolik kedua dimensi ini disimbolisasikan oleh tiang vertikal dan palang horisontal dari Tanda Salib. Tiang vertikal mensimbolisasikan relasi manusia dengan Allah dan palang horisonal menjabarkan relasi manusia dengan sesamanya. Di agama Islam hal ini dihayati dengan istilah HABLUM MINALLAH dan HABLUM MINANNAS yang mensimbolisasikan relasi yang serupa – relasi dengan Allah dan sesama. Kita beragama untuk membangun perilaku hidup yang baik dengan sesama – di tempat di mana kita hidup. Karenanya ajaran agama tidak pernah bisa dipahami parsial dan dilepaskan dari konteks sosial budayanya. Hal itulah yang ditekankan oleh Bung Karno bahwa apapun agamanya, penerapannya tetap tidak bisa lepas dari konteks sosial budaya masyarakatnya. Akulturasi – menjadi kata kuncinya. Agama dengan demikian perlu meleburkan nilai-nilai ajarannya dengan konteks sosial budaya masyarakatnya.

Indonesia memang negara yang didirikan oleh para Founding Fathers dengan kesadaran penuh atas keberagaman yang menjadi kekayaannya. Karenanya negara Indonesia adalah bukan negara agama. Negara Indonesia adalah negara kesatuan berdasarkan Pancasila – yang sila pertamanya adalah sila Ketuhanan yang Maha Esa.

Semoga kita semua bisa semakin menghayati keagamaan sekaligus keIndonesiaan kita…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s