lapisan-lapisan pengalaman

 

Katanya pengalaman adalah guru yang terbaik. Betul – selama sang murid juga hadir dan membuka diri untuk belajar. Dari apa yang dialami sendiri maupun mengamati orang-lain dalam banyak situasi, pengalaman sepertinya tidak selalu membawa perubahan dalam diri kita. Sepertinya ada banyak cara bagaimana sebuah pengalaman / kejadian bisa menyentuh diri kita di lapisan yang terdalam dan membawa perubahan (baca : pembelajaran).

Saya mengambil contoh dari para pejalan (travellers). Saat ini, travelling menjadi salah satu bentuk kekinian (trend) bersamaan dengan menjamurnya penerbangan murah (budget flights) dan tebaran informasi di media sosial. Dengan sekejap, informasi tentang tempat baru bagus atau seru – yang serba mengundang – beredar ke semua orang yang menggenggam gawai dan terkoneksi melalui medsos. Belum habis satu lokasi baru selesai dishare sudah masuk lagi berita kawan atau famili kita yang bepergian ke tempat yang lain lagi. Sepertinya saat ini kalau kita ga bepergian, kita menjadi bukan siapa-siapa.

Akibatnya sekarang bepergian (travelling) menjadi sebuah kebutuhan baru. Mulai yang sederhana dari taman kota atau spot kulineran baru hingga destinasi wisata terbaru segera menjadi target / atau To Do checklist dari banyak orang. Biar gaul katanya, orang-orang lain bilang biar banyak pengalaman.

Mengenai pengalaman, pemikiran saya begini. Pengalaman itu mestinya membawa pengaruh buat kita. Pengaruhnya bisa sangat dangkal juga bisa sangat mendalam. Pengalaman yang dangkal, saya istilahkan sebagai sekedar pengalaman jasmaniah – fisikal. Sekedar berada di satu tempat baru, berpindah tempat. Tempat baru kita kunjungi, buat beberapa swafoto untuk mengisi media sosial dan membaharui status, mencoba menu kuliner di tempat itu. Kemudian selesai. Hanya itu. Lalu kita pulang dan beberapa waktu kemudian itu jadi pengalaman yang terlupakan. Sekedar terlewati. Banyak orang yang bepergian ke mana2 bahkan ke seluruh dunia – tapi tidak membawa perubahan apapun bagi dirinya.

Pengalaman yang menyentuh kita di lapisan yang lebih mendalam adalah pengalaman yang sifatnya emosional. Di tempat tersebut perasaan kita berubah, Tempat tersebut menyentuh kita secara emosional. Kita bisa merasa gembira, atau sebaliknya merasa terharu atau sedih. Tapi setelah kita kembali ke tempat semula, perasaan itu hilang – tidak membekas.

Pengalaman yang menyentuh kita di lapisan kedirian yang terdalam adalah pengalaman yang sifatnya Spiritual. Pengalaman semacam ini yang mampu mengubah kita, apakah cara berpikir kita, sudut pandang kita, atau pemahaman – penghayatan kita terhadap sesuatu. Ada sesuatu dari tempat yang kita kunjungi tadi yang terkoneksi dengan diri kita. Hal-hal tersebut bisa kita dapatkan dari tempat-tempat yang tidak terlalu istimewa – bahkan yang mungkin biasa saja, tapi peristiwa atau suasana yang dialami mampu menggores batin kita cukup dalam. Di dalam situasi inilah teman-teman, kita bisa bilang bahwa Pengalaman adalah Guru yang Terbaik.

Kata kuncinya adalah koneksi. Koneksi yang mendalam bisa terjadi saat kita membuka diri – melebur dengan segala situasi pengalaman tersebut. Dengan peristiwa, dengan tempat, dengan apa yang terjadi. Melebur, hadir sepenuh diri: badan, pikiran, jiwa. Dengan begitu kita menjadi satu, memahami, menghayati pengalaman dan mudah-mudahan dapat memaknai apa pengalaman tersebut bagi perjalanan hidup kita.

Ada sisi lain yang jadinya muncul saat koneksi tidak terjadi. Kehadiran kita justru hanya membawa keburukan bagi tempat itu. Saat travelling adalah sekedar bertujuan mengupdate konten media sosial, kita hanya peduli kepentingan kita. Semacam sebuah pemenuhan ego individual. Setelahnya kita tidak lagi peduli terhadap tempat itu. Saat di sana-pun kita membawa berbagai keburukan. Yang paling sederhana kita mengotori / membuang sampah kita di sana. Coba lihat berbagai tempat wisata – tujuan perjalanan. Tempat2 yang awalnya dikunjungi karena keindahan dengan segera rusak setelah banyak manusia2 mengunjunginya. Tidak ada apresiasi yang di bawa. Yang hadir – yang katanya mencari pengalaman hanyalah peduli dirinya sendiri – status yang dibawa pulang sekembali ke sana. Sekedar mencari terpenuhi perasaan“I’ve been there, done that”, dan mencari likes atas posting foto2 di media sosialnya.

Jadi seperti kata-kata kutipan di atas, the value of experience is not in seeing much but in seeing wisely. Jadi mengumpulkan pengalaman tidak cukup kalau tidak disertai niatan untuk menemukan kebijakan…

Salam.

Advertisements

One thought on “lapisan-lapisan pengalaman

  1. seperti halnya melakukan perjalanan dengan rumah belajar semi palar, saat melebur jadi satu, berkarya, dan berkolaborasi maka pengalaman belajar begitu bermakna
    terima kasih

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s