perjalanan ke desa kandangan [1/3]

Tulisan ini adalah bagian pertama dari 3 posting yang rencananya dituliskan terkait perjalanan saya dan Rico ke desa Kandangan, Temanggung – di minggu ke dua bulan Maret 2017.

Tidak ada peristiwa kebetulan. Semakin diyakini, semakin banyak dialami juga. Berikut kisah perjalanan saya dan Rico ke Kandangan, Temanggung – yang tanpa disadari sudah ‘dimulai’ sejak tahun 2014, bahkan mungkin sebelumnya.

September 2014 tanpa direncanakan, saya berjumpa dengan mas Singgih S. Kartono yang sebelumnya saya kenal sekilas sebagai perancang Radio Kayu – Radio Magno. Perjumpaan ini mengambil tempat di ruang duduk pak Iskandar di Bumi Langit Institute, Imogiri. Di sana kami berkenalan secara singkat dan tanpa disadari saya membatin bahwa kelak kami akan berjumpa kembali. Tahun 2016, kami berjumpa sekilas di Pasar Seni ITB, sekedar melambaikan tangan dari jauh di tengah keriuhan Pasar Seni. Setelahnya saya sempat menjalin komunikasi singkat mengenai Sepeda Bambu melalui WA.

Beberapa waktu lalu, Rico mengirimkan pengajuan kepada Mas Singgih dan teman-teman di Spedagi / Radio Magno untuk diperbolehkan tinggal dan belajar (live-in) di tempat tersebut. Dari beberapa alternatif yang muncul (Bumi Langit Institute, Jatiwangi Art-Factory, Bumi Intaran di Bali dll.) Rico menentukan minatnya untuk menjalankan tantangan ini di Kandangan, Temanggung. Rico juga sempat berbincang dengan rekan orang tua Ahmad Yunus yang merekomendasikan tempat ini sebagai tujuan proyek mandiri Rico. Hari ini sekitar 2,5 tahun kemudian, sayapun mengetikkan kalimat-kalimat pertama ini di pojok kerja tim Spedagi di kediaman mas Singgih di Kandangan, Temanggung. Sejak kemarin saya mengantar Rico untuk mencari kemungkinan tinggal dan belajar dari berbagai aktivitas keseharian teman2 di desa Kandangan Temanggung ini.

Buat saya ini terasa spesial karena hampir tidak pernah saya jalan bareng bersama Rico ke suatu tempat berdua, apalagi menghantar dia untuk proses pembelajaran yang tampaknya sedang sangat dia butuhkan. Buat Rico – seperti yang dia sepakati, ini semacam upaya untuk keluar dari zona nyamannya. Dari sisi saya, mudah2an ini jadi sebentuk quality time buat Rico juga – sesuatu yang cukup langka karena kesibukan saya mengelola  Rumah Belajar Semi Palar sejak tahun2 pertama pendiriannya.

Kami berangkat Kamis siang dari rumah kami, mulai perjalanan kami dengan berjalan kaki ke Stasiun Bandung. Siang cukup terik, 30 menit kami sampai kami tiba di Stasiun Bandung. Rico segera ke counter check-in untuk mendapatkan tiket. Tepat pukul 15.45 Kereta Malabar berangkat menuju Stasiun Tugu Jogjakarta. Kami duduk berhadapan dengan dua anak muda asal Bandung yang sedang ingin menuju ke Kediri untuk tinggal dan belajar di Kampung Inggris. Dio dan Fadli, namanya. Tidak lama setelah saling memperkenalkan diri, kamipun saling memperkenalkan diri dan berbincang berbagai hal. Mereka jadi teman berbincang yang cukup menyenangkan, menghilangkan sebagian dari kejemuan perjalanan panjang menuju Jogjakarta. Inilah serunya naik kereta Ekonomi, mana kami harus duduk berdesakan – berhadapan dengan penumpang lain dalam perjalanan panjang yang mendorong kami untuk berinteraksi dan berbagi cerita dengan teman seperjalanan.

wp-1489325805715.jpgTepat sesuai jadwal (bravo untuk PT KAI), kereta tiba di Stasiun Tugu pukul 00.33. Kami bersepakat menunggu pagi tiba di Stasiun. Merespon lapar, kamipun mencari ‘makan malam’ di kantin stasiun dan mencari tempat nyaman untuk rebahan. Kursi tunggu pengunjung jadi sasaran kami. Beruntung malam cukup cerah dan kamipun ‘tidur’ di bawah langit cerah dan bulan bersinar dengan kepala beralaskan backpack. Beberapa waktu berselang, kami baru sadar bahwa kami tidur di dekat pengeras suara – yang setelah beberapa waktu berjalan berulang kali membangunkan kami lewat pengumuman kedatangan dan keberangkatan Kereta Api ke berbagai tujuannya. Tapi lelahnya badan menghalangi kami untuk berpindah tempat. Bersama para porter dan beberapa penumpang lain, kamipun berbaring memejamkan mata berusaha menghilangkan penat di bangku2 panjang di stasiun menunggu pagi datang.

Langit Jogja yang mulai terang dan suasana stasiun yang semakin ramai membangunkan kami. Setelah menyegarkan diri, Rico bergegas mencari tiket bis untuk  kita berangkat ke Temanggung. Pukul enam lebih sedikit kendaraan yang kami naiki mulai bergerak ke tujuan. Berhenti sebentar sebelum dan di dalam kota Magelang untuk menurunkan penumpang lain, kamipun sampai di terminal bis Temanggung. Tengok kiri kanan, seseorang menghampiri kami, dan lewat bantuan beliau, pak Manius namanya, kamipun mendapatkan 2 motor Ojeg untuk mengantar kami ke Desa Kandangan.

wp-1489330016643.jpg

Gunung Sumbing yang terlihat megah dalam perjalanan ke Desa Kandangan

Tiba di Kandangan

Sekitar pukul 9.30, kamipun tiba di tujuan. Begitu masuk halaman, mbak Siska menyambut kami dan kamipun berkenalan. Tidak lama mas Singgih pun datang disusul keluarga inti Radio Magno – Spedagi lainnya: Mbak Tri, kak Ara, dan Liris. Tidak lama, kamipun segera berbincang dan mengungkapkan rencana kedatangan kami ke sana. Seminggu sebelumnya Rico telah mengirimkan proposal untuk menyatakan keinginannya tinggal dan belajar dari berbagai aktifitas teman-teman di Desa Kandangan ini.

Setelah sekilas menjelaskan tentang KPB dan latar belakang gagasan live-in / magang ini muncul, Rico kemudian menjelaskan apa yang menjadi tujuan dan harapan-harapannya sekaligus juga bercerita tentang pengalaman belajarnya di jenjang SMP dan prosesnya di KPB sebelum mampir ke Desa Kandangan ini.

wp-1489330563548.jpg

Ternyata kemudian Mas Singgih merespon positif apa yang dipaparkan Rico dan segera merancang beberapa hal yang bisa dilakukan Rico di Temanggung berdasarkan pengalaman-pengalaman Rico dan teman-temannya di KPB sebelumnya. Setelah mengaturkan beberapa hal, kami diajak melihat sekilas workshop Radio Magno dan Spedagi. Rencananya keesokan hari kami akan kembali dan melihat proses produksinya dengan lebih mendetail.

Dari workshop Magno tempat kami berbincang, kamipun bergerak menuju homestay Omah Yudhi di mana kami akan tinggal malam nanti.

Sekilas tentang Omah Yudhi

Sejauh pengetahuan saya, Omah Yudhi adalah salah satu fasilitas akomodasi yang digagas oleh Spedagi bekerja sama dengan warga sekitar bagian dari gerakan revitalisasi desa. Berlokasi tepat di seberang pasar Kandangan, Omah Yudhi adalah kompleks bangunan-bangunan kecil tempat menginap bagi pengunjung yang dibangun di tengah hamparan pesawahan yang masih asri. Jaraknya hanya beberapa ratus meter dari Workshop Radio Magno. Tempatnya tersembunyi di belakang bangunan-bangunan yang berjajar di tepi jalan raya.

wp-1489640387912.jpg

Suasana Homestay Omah Yudhi di desa Kandangan, Temanggung

Bekerja sama dengan mas Yudhi sebagai pemilik lahan, fasilitas ini awalnya disiapkan untuk mendukung kegiatan ICVR (International Conference for Village Revitalisation) yang pertama (2014), dengan peserta yang datang dari beberapa negara. Saat ini, Omah Yudhi berfungsi sebagai homestay bagi para pengunjung Radio Magno dan Spedagi yang ingin bermalam. Kami sempat merasakan semalam tinggal di sana. Pengalaman yang kembali membangunkan keinginan kuat untuk pindah dan tinggal di daerah pedesaan.

Dari Omah Yudhi, kamipun berangkat ke suatu tempat di mana proyek Revitalisasi Desa Spedagi yang berikutnya akan digelar – setelah Pasar Papringan yang pertama di Desa Kelingan berhasil digelar oleh Spedagi bekerja sama dengan masyarakat setempat. Lokasi baru Pasar Papringan ini berjarak sekitar 10 km. dari Kandangan (Lebih lanjut tentang ini saya akan tuliskan di posting selanjutnya). Sisa sehari penuh kami habiskan di hutan bambu di desa tersebut sampai kemudian kami kembali ke Kandangan di petang hari untuk beristirahat. Malam harinya hujan turun di Kandangan, sayapun menghabiskan sisa hari merefleksikan pengalaman sehari tadi di dalam tempat menginap kami di Omah Yudhi, di tepi sawah ditemani suara rintik hujan, suara jangkrik dan kodok yang bersahutan.

Keesokan harinya saya menghabiskan pagi di Omah Yudhi berdiskusi dengan Rico, yang tampaknya juga memikirkan banyak hal di kepalanya. Sekitar pukul sepuluh kami beranjak ke kediaman mas Singgih. Ditemani mbak Tri, saya dan Rico  menelusuri tahap-tahapan proses pembuatan Radio Magno dan sepeda bambu Spedagi. Kami juga mendapatkan banyak cerita tentang sejarah dan latar belakang kedua produk ini dan berbagai konsep maupun filosofi di belakangnya. Sangat menarik.

Pukul empat sore, waktunya kami meninggalkan Kandangan. Kamipun berpamitan dan di antar oleh mbak Siska, kak Ara, Liris dan mbak Meida, saya dan Rico menumpang angkot ke Temanggung untuk menunggu travel ke Jogjakarta. Kami tiba sekitar pukul sembilan di Jogjakarta dan setelah mendapatkan tiket, kami berdua menunggu waktu berangkat dengan menelusuri Malioboro, makan malam di angkringan, dan menikmati suasana riuhnya malam Minggu di jalanan utama kota Jogja.

28 menit menjelang tengah malam, kereta api Malabar menuju Bandung berangkat, dan kembali kami berdesak-desakan di bangku kereta ekonomi kembali ke titik awal perjalanan. Perjalanan yang sangat singkat tapi bagi saya penuh pengalaman berharga. Mudah2an begitu pula untuk Rico yang akan berangkat kembali ke Kandangan pada hari Selasa. Hanya 2 hari 2 malam tersisa di Bandung untuk dia mempersiapkan diri tinggal dan belajar di Kandangan – mudah-mudahan untuk 2 bulan ke depan.

(bersambung)


Di tulisan berikutnya saya akan bercerita tentang Spedagi Movement – disambung dengan tulisan terakhir yang akan mengulas tentang Radio Magno. Keduanya baru saya bisa pahami secara lebih lengkap melalui kunjungan ini. Radio Magno (radio kayu) dan Spedagi (sepeda bambu) sekilas memang hasil olahan desain produk yang bukan keren (banget), tapi lebih jauh dari itu keduanya merupakan ikon dan simbol dari sebuah gerakan / tujuan yang lebih besar dan luhur. Apa yang dirintis mas Singgih dan rekan-rekan di desa Kandangan dalam prinsipnya adalah upaya Revitalisasi Pedesaan. Mengutip kata-kata yang tertulis di situs Spedagi.com :

“Desa adalah masa depan dunia yang sebenarnya, yang masih tertinggal di masa lalu”

 


Tulisan ini adalah bagian pertama dari 3 tulisan

Bagian 1 : Perjalanan ke Desa Kandangan
Bagian 2 : Kisah dari Kandangan : Spedagi Movement
Bagian 3 : Kisah dari Kandangan : Dari Desa untuk Dunia

 

Tulisan terkait : (ingin) pindah ke desa

Advertisements

3 thoughts on “perjalanan ke desa kandangan [1/3]

  1. Pingback: antara waktu, kehidupan dan kebahagiaan | perjalanan si 'nday'

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s