semakin gaduh kehidupan, semakin kita butuh keheningan…

 

“Waduh, baru saja tahun baruan, sekarang sudah mau habis bulan Januari!”, beberapa kali saya dengar kata-kata di atas dari berbagai percakapan. Hidup seakan berjalan begitu cepat, kita merasa tergopoh-gopoh menjalaninya. Kita merasa begitu banyak hal yang harus dilakukan atau ingin dilakukan, tapi waktu seakan tidak memberi kesempatan.
Seakan segala sesuatu sudah modern, kita semakin banyak punya kemudahan: alat2 elektronik, teknologi komunikasi, gawai, internet dan lain sebagainya. Tapi kita merasa semakin kehabisan waktu, semakin sibuk, pekerjaan seakan tidak habis-habisnya.

Buat yang sekarang sudah berkeluarga, dulu kita sempat mengalami ibu kita mengurus rumah tangga dan empat atau lebih anak-anaknya, mereka masih sempat memasak dan menjahitkan baju. Mencuci baju tanpa mesin cuci, dan mereka masih juga sempat membacakan anak-anaknya dongeng sebelum tidur… Apakah ibu-ibu kita yang luar biasa? Atau apakah waktu berjalan semakin cepat? Apakah benar begitu? Apa yang berubah? Apa yang tidak kita sadari sudah bergeser?

Apakah waktu berubah semakin cepat? Semestinya tidak ya. Alam masih berjalan dengan ritmenya sendiri, siang dan malam, bumi yang mengitari matahari, semua masih sama. Satu tahun masih 12 bulan dan satu jam masih terdiri dari 60 ketukan detik. Tidak ada yang berubah.

Modernitas yang menggegas

Sepertinya yang bergeser adalah pola kehidupan kita, yang katanya semakin lama semakin modern. Dulu, dunia kita terbatas. Sebelum ada Radio dan TV dan komunikasi masih belum digital, kabar, berita dan kisah dari sampai cukup lama ke telinga kita. Dulu, kehidupan kita relatif hening dan tidak banyak terganggu oleh apa yang terjadi di luar lingkaran pengetahuan kita. Kita sebatas tahu apa yang terjadi di rumah, di sekolah dan di tempat kerja. Ditambah sedikit filem  hiburan dan sedikit iklan di layar TV.

O iya tentunya ini di di era-era awal TV. TV di Indonesia dimulai dengan hanya satu kanal : TVRI. Dan di tahun 70an iklan2 yang muncul di tayangan TV selama satu hari bisa ditampung khusus dalam satu segmen acara 60 menit yang judulnya Manasuka Siaran Niaga (mudah-mudahan saya tidak salah ingat). Informasi datang dalam ritme yang lambat.

Dunia yang semakin berisik

Lalu apa yang terjadi hari ini? Hari ini seluruh dunia ada di dalam genggaman tangan kita. Selama gawai kita terkoneksi, kuota masih ada, informasi apapun bisa kita ketahui. Begitu kita terkoneksi, informasi apapun yang kita cari (bahkan juga yang tidak kita cari / butuhkan) hadir langsung di hadapan kita. Produk, layanan, berita berseliweran begitu dekat dengan kita – begitu personal. Melalui medsos, WA group kita dengan sekejap tahu, teman kita sedang kulineran menu terkini di cafe terbaru. Sekejap kemudian, kita tahu sepupu kita sedang jalan-jalan di pinggiran pantai di kota manca negara. 5 menit kemudian masuk berita teman kita bilang produk ini lebih bagus dari yang sebelumnya – dilanjutkan dengan toko di sono punya diskon lebih besar dari toko sebelah… Belum lagi kabar hoax masuk ke grup kita yang satu dan kita segera merasa penting untuk memforwardnya ke grup sebelah. Begitu seterusnya.

Sekarang kita semua dibanjiri informasi. Informasi-informasi ini mungkin lebih dari 90%nya tidak relevan buat kita. Akibatnya dunia kita, kehidupan kita jadi gaduh. Kita tiba-tiba jadi merasa kurang kekinian, ga gaul. Kita juga merasa pengen beli sesuatu yang tidak kita butuhkan atau merasa belum punya foto selfie di tempat tujuan perjalanan yang baru saja dikunjungi teman kita. Di sisi lain kita jadi merasa khawatir karena kejadian buruk yang ada di tempat lain, dan merasa jadi tidak aman… Seakan ada begitu banyak hal yang harus kita lakukan, dan kita disibukkan dengan hal-hal yang jangan-jangan tidak bermakna.

Kegaduhan ini membuat kita tenggelam dan tidak mampu mencerna, mengolah apa yang sebetulnya penting buat kita. Kebisingan ini membuat kita kesulitan mengenal diri sendiri, siapa kita, apa dan bagaimana kehidupan kita sesungguhnya. Kalau kita tidak hati-hati, kita jadi tidak lagi mengenal diri kita sendiri dan kehidupan yang sedang kita jalani dari hari ke hari. Kita jadi tersesat karena terdistraksi oleh begitu banyak informasi yang datang dari luar. Jangan-jangan begitu banyak hal yang tidak penting, tidak esensial buat kehidupan kita yang kemudian jadi menyita waktu kita.

Sepertinya…
semakin gaduh kehidupan, semakin kita butuh keheningan.

Keheningan memungkinkan kita mendengarkan diri kita sendiri. Mendengarkan diri kita membuat kita mengenal diri dan tujuan-tujuan hidup kita. Sekarang ini apa yang kita lakukan, keputusan-keputusan hidup kita banyak ditentukan atau dipengaruhi dari luar. Padahal hanya nurani kita yang tahu betul tujuan kita hidup di dunia ini. Di dunia yang serba modern ini, menyelaraskan kehidupan kita dengan tujuan hidup kita yang sejati memang jadi tantangan besar.

wp-1484983579015.jpg

Catatan reflektif ini dituliskan setelah berdiskusi bersama rekan-rekan orangtua di Taki-taki – pertemuan orangtua KPB di awal semester  kedua ini. Sempat dibicarakan bagaimana anak-anak tampaknya sedang banyak berpikir (untuk tidak mengatakan bingung) untuk memutuskan langkah-langkah ke depan. Dari pemikiran di atas, tampaknya teman-teman KPB perlu mencoba untuk hening, mendengarkan nurani, mendengarkan bisikan diri… Jangan-jangan teman-teman KPB ini juga sedang kebanjiran informasi – berada dalam situasi terlalu gaduh karena terus membaca dan menyerap segala sesuatu dari pengalaman-pengalaman belajarnya.

Mungkin ini saatnya hening, seperti saat ingin berkaca di air kolam, kita perlu tidak banyak bergerak ataupun mengganggu permukaan kolam untuk membiarkan air tenang seperti cermin – agar gambaran diri kita di pantulan air kolam bisa jelas kita baca dan pahami… Mungkin ini saatnya mencoba…

Akhir kata, mudah2an tulisan pendek ini tidak ikut bikin bising… 🙂
Namaste _/\_

Advertisements

One thought on “semakin gaduh kehidupan, semakin kita butuh keheningan…

  1. Pingback: antara waktu, kehidupan dan kebahagiaan | perjalanan si 'nday'

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s