[trash] collectivism

TC, wah benda apa itu? Hmm, Trash Collectivism hanya istilah rekaan saya belaka. Supaya keren, begitu… supaya ‘catchy‘ dan mudah diingat orang. Lalu apa sebenarnya TC itu? Terjemahan bebasnya adalah mengumpulkan sampah. ‘TC’ adalah salah satu hal sederhana yang bisa kita lakukan di rumah kita masing-masing untuk mulai mengolah sampah. Pertanyaan berikutnya yang mungkin muncul adalah “Untuk apa sampah kita olah? Namanya saja sampah?”

Secara sederhana, tujuan mengolah sampah adalah agar sampah itu punya nilai tambah. Selama ini di dalam benak kita, sampah adalah benda-benda yang tidak lagi ada gunanya. Pola pikir ini harus kita ubah. Sampah harus tidak lagi kita pandang sebagai sekedar sesuatu yang kita buang karena sudah tidak ada nilainya. Benda apapun yang sudah habis nilai fungsinya bagi kita perlu kita lihat dan temukan nilai lainnya – paling tidak nilai materialnya. Kenapa? Karena benda apapun yang kita gunakan, sumber / bahan bakunya pasti berasal dari alam. Segala sesuatu yang dimiliki dan tersedia di alam kita adalah terbatas (finite), bahkan sangat terbatas untuk mencukupi kebutuhan umat manusia yang sudah sekian miliar orang jumlahnya – dan masih terus bertambah.

Sebuah ilustrasi sederhana: plastik – termasuk juga kantong kresek atau plastik kemasan yang kita gunakan sehari-hari diolah dari bahan dasar minyak bumi. Salah satu turunan olahan minyak bumi (kalau tidak salah diistilahkan polimer) kita gunakan sebagai kemasan produk atau kantong pembawa barang-barang belanjaan kita sehari-hari. Sudah tidak banyak kita sadari lagi bahwa ketersediaan minyak bumi adalah sangat terbatas. Atau, kita sadar tapi tidak terlalu peduli atau paham betul apa dampaknya. Para ahli memperkirakan persediaan minyak bumi di planet kita ini akan habis dalam jangka waktu 20-30 tahun ke depan. Sebaliknya kita juga sering lupa bahwa alam perlu waktu jutaan tahun untuk memproses tumbuhan yang mati dan tertimbun dalam tanah untuk menghasilkan sejumlah besar minyak bumi untuk bisa kita manfaatkan.

Plastik (dalam bentuk tas plastik (kresek) atau kemasan) adalah produk yang jangka waktu manfaatnya paling pendek. Para pedagang toko dan warung dengan mudah mengeluarkan kantong kresek untuk kemudahan kita membawa belanjaan kita. Kita dengan mudah juga menerimanya. Di rumah tanpa berpikir juga kita lemparkan kantong kresek tersebut ke dalam tempat sampah. Kita berpikir, nilai fungsi dan ekonominya sudah tidak ada. Kita lupa, biaya ekologinya belum kita bayar. Kita lupa bahwa kantong kresek / kemasan yang kita sudah manfaatkan hanya dalam hitungan jam perlu ribuan tahun untuk terurai kembali secara di alam. Kita tidak bisa bayangkan berapa biaya yang harus kita keluarkan kalau kita diminta untuk menguraikan kembali seluruh sampah limbah yang kita hasilkan selama kita hidup.

Beberapa waktu lalu, dari sebuah situs lingkungan hidup (www.oneearth.org) saya belajar bahwa jumlah seluruh limbah yang dihasilkan untuk memproduksi sebuah mobil baru adalah 21 ton. 21 TON! Limbah tersebut dihitung mulai dari proses produksi baja, kaca, plastik, karet, kulit dsb. Mulai dari proses produksi bahan baku, bahan setengah jadi hingga ke produk akhir sebuah mobil yang dipajang di showroom. Harga yang dibayarkan untuk sebuah mobil baru adalah katakan sekian ratus juta rupiah. Pertanyaannya, apakah harga yang dibayar konsumen tersebut cukup untuk mengolah 21 ton limbah yang dihasilkan tersebut secara bertanggung jawab? Siapa yang membayar biaya ekologis untuk mengolah limbah hasil produksi mobil tersebut? Kemudian selama masa pakainya, apakah harga yang dibayarkan konsumen cukup untuk menggantikan emisi CO2 yang dihasilkan kendaraan tersebut selama dimanfaatkan? Betapa besar biaya ekologis yang tidak pernah kita bayarkan – dengan kata lain kita hutangkan – kepada planet kita dan tidak pernah kita bayarkan?

Hutang ekologis ini suatu saat HARUS kita bayar. Kalau bukan kita yang membayarkannya mulai dari sekarang, anak cucu kita-lah yang akan menanggungnya. Hutang ini akan muncul dalam bentuk kerusakan lingkungan yang luar biasa dan sangat sulit kita perbaiki kembali kondisinya. Disadari atau tidak gejala-gejala kerusakan lingkungan ini sudah sangat bisa kita rasakan – lewat perubahan iklim (climate change) – atau lewat banyak gejala-gejala pemanasan bumi (global warming) yang sudah begitu banyak dimunculkan oleh media. Sejauh ini kita masih pada tahap bicara dan berwacana, dan apa yang kita lakukan masih jauh-jauh dari cukup.

Kembali ke TC, konsepnya begini. Sederhana sekali. Perhatikan gambar di bawah ini. Gambar sebelah kiri adalah sebuah sikat gigi bekas yang saya buang ke tempat sampah – seperti yang selama ini kita lakukan. Setelah tempat sampah tersebut dikosongkan dan digabung dengan sampah-sampah rumah tangga lainnya, sikat gigi bekas tersebut kelihatan tidak ada harganya.  
kiri : 1 sikat gigi di dalam tong sampah | kanan : sekumpulan benda berbahan dasar plastik

Di gambar sebelah kanan, saya mengumpulkan sikat-sikat gigi bekas yang sudah tidak terpakai, sebelum saya ‘berikan’ kepada tukang sampah. Ada suatu nilai tambah di situ – karena ada upaya yang kita tanamkan di sana dengan mengumpulkan sampah kita sebelum kita keluarkan dari rumah kita. Ini yang saya istilahkan dengan nilai material. Secara fungsi – sebagai sikat gigi nilainya sudah habis – tapi yang muncul adalah sejumlah tertentu benda yang bahan dasarnya adalah plastik. Walaupun bukan kita yang melakukannya, saya yakin sekantong besar sikat gigi (baca: plastik) akan mendorong orang yang mengambilnya untuk berpikir dan mengubahnya menjadi sesuatu yang punya nilai ekonomi. Dengan mengumpulkan sampah kita per-jenis, kita mendorong orang lain melakukan recycling. Daur ulang adalah upaya kita untuk memperpanjang nilai fungsional / masa pakai dari setiap benda yang kita gunakan. Semakin banyak dari kita yang melakukan TC ini, akan semakin besar pula insentif bagi orang lain yang memang mencari penghidupan dari sampah / limbah untuk mendaur ulang. Ini adalah pemikiran mendasar dari TC.

contoh lain sampah yang bisa kita kumpulkan

Kalau hal-hal semacam ini kita lakukan terus menerus, secara fundamental, hal ini juga akan mengubah pola pikir kita terhadap sampah / limbah yang kita hasilkan.

Pada akhirnya kita bicara tentang kesadaran ekologis. Kesadaran adalah kemampuan kita melihat sesuatu melampaui apa yang terlihat secara kasat mata. Saat kita melihat sebuah buku, biasanya kita melihatnya hanya setumpuk kertas yang dijilid. Kita memiliki kesadaran, saat kita bisa melihat buku tersebut sebagai sebuah pohon.
Saat kita berbelanja di sebuah Super Market, apakah kita melihat bahwa di kiri-kanan rak pajangan produk sebagian besar daripadanya adalah sampah yang akan kita keluarkan dari rumah kita. Sampah kita tersebut akan ikut mengotori planet kita, tempat hidup kita.

Kesadaran kita akan menentukan sikap kita dalam melakukan segala sesuatu. Lepas dari terkenal atau tidaknya suatu produk, mungkin kita akan memilih produk yang kemasannya paling sederhana – sehingga sampahnya paling sedikit. Mungkin kita akan memilih produk yang dikemas menggunakan kertas daripada plastik…

Sejauh kita belum bisa melepaskan diri dari produk-produk yang dijual di toko-toko untuk kebutuhan hidup kita sehari-hari, paling tidak hal-hal sederhana semacam ini bisa kita lakukan. Dalam bahasa gerakan lingkungan hidup, sekecil apapun hal yang kita lakukan, hal tersebut pasti membawa perubahan.“So, no matter how small, do it anyway!”. Ayo kita coba!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s